Hikmah ‘Huru-Hara’ Rumah Tangga
Bagi kaum beriman, pernikahan memiliki nilai multikompleks. Nuansa
iman dan pengabdian menjadi motivator tersendiri yang melahirkan
berbagai target dan tujuan mulia dalam mengarungi hidup berumah tangga.
Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam yang memiliki nilai ‘greget’
paling dominan adalah mencari kebahagiaan.
Kenikmatan Di Balik Prahara
Mencari kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga tak ubahnya mencari
‘benda kesayangan’ yang lenyap di rerimbunan hutan belukar, atau
menuntaskan dahaga dengan meneguk air embun yang dikumpulkan dari
dedaunan di kebun yang luas membentang. Sesuatu yang harus, tapi tidak
bisa diperoleh dengan bersantai-santai, tidak bisa dicapai usaha yang
dilakukan setengah-setengah. Namun di situlah letak seni kebahagiaan
dalam rumah tangga, bahkan dalam persepsi umum, juga kebahagiaan dalam
segala hal.
Allah berfirman:
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya di balik kesulitan, pasti terdapat kemudahan.” (Al-Insyiraah : 6)
Pepatah Arab mengatakan:
وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
“Bersusahpayahlah. Kerena kenikmatan hidup itu didapatkan melalui kepayahan.”
Tentu saja, segala kesulitan itu bukanlah hal yang kita cari-cari.
Tapi garis takdir dan sunnatullah telah tergurat sedemikian rupa dalam
realitas kehidupan rumah tangga siapapun di dunia ini, termasuk rumah
tangga Rasulullah r. Bahkan realitas itu mirip dengan fenomena dosa.
Setiap muslim harus menghindari dosa. Tapi tak seorangpun yang terbebas
dari dosa. Sehingga Rasulullah r menegaskan dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya:
“Masing-masing anak manusia adalah pelaku dosa. Namun sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah yang paling banyak bertaubat.”
Bahkan dalam Miftaah Daaris Sa’aadah jilid kedua, Ibnul
Qayyim menjelaskan bahwa di antara hikmah terjadinya dosa adalah agar
semakin jelas keberadaan Allah sebagai Yang Maha Pengampun, dan juga
keberadaan Allah sebagai Yang Maha Dahsyat siksa-Nya. Melalui rangkaian
dosa demi dosa, muncul berbagai keutamaan istighfar dan bertaubat.
Bahkan karena ‘dosa’ Adam, umat manusia berkesempatan melakukan banyak
amal kebajikan, menebarkan amar ma’ruf nahi mungkar di dunia ini. Untuk
tujuan itu pula di utus para nabi. Semua itu adalah hikmah dari adanya
dosa. Namun tidaklah berarti kita hidup untuk berbuat dosa. Demikian
juga halnya berbagai problematika dalam hidup rumah tangga. Meski bukan
hal yang dicari-cari, namun mau tidak mau harus tetap dihadapi, dan pada
akhirnya, bagi seorang mukmin sejati, pasti akan menyemburatkan ribuan
hikmah yang tersembunyi.
Ragam-ragam Kesulitan Rumah Tangga
Saat bahtera rumah tangga di lepas di pantai pelaminan, suka dan duka
kehidupan suami istri mulai dikecap secara bergantian. Soal kenikmatan
dan kebahagiaannya, tidak perlu diungkapkan lagi. Hanya sepasang
pengantin yang sedang ‘dilanda’ bulan-bulan kenikmatan yang mampu
mengungkapkannya secara lebih hidup dan nyata. Namun saat hubungan
interaksi mulai berlangsung, saat kepekeaan, emosi dan tingkat
intelektualitas mendapat ujian menghadapi batu-batu sandungan,
masing-masing harus lebih mawas diri. Kesabaran menjadi kata kunci
menuju sukseks melawan dera masalah. Kesulitan-kesulitan yang mungkin
muncul, yang mungkin bisa diistilahkan sebagai bumbu rumah tangga, bisa
berpangkal dari banyak hal. Mungkin di antaranya sebagai berikut:
- Perbedaan karakter dasar.
- Perbedaan tingkat intelejensi, kadar intelektualitas dan wawasan berpikir.
- Perbedaan usia yang terlalu menyolok.
- Perbedaan latar belakang pengalaman, satus sosial dan lingkungan hidup.
- Perbedaan pemahaman dan prinsip hidup dan beragama.
- Kurangnya pengalaman interaksi sosial.
- Kesulitan ekonomi.
- Cacat dan kekurangan pisik ataupun mental yang baru diketahui belakangan.
Di antara beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya konflik
dalam rumah tangga tersebut, ada yang bersifat prinsipil sehingga tidak
bisa ditolerir, seperti perbedaan prinsip hidup dan pemahaman agama.
Dalam hal ini, harus ada penyatuan melalui dialog dan pembicaraan dari
hati ke hati. Bila tidak mungkin, bisa menjadi kendala yang tidak akan
terselesaikan kecuali dengan perceraian. Di antara faktor lain, ada yang
sah dijadikan alasan untuk ‘menggugat pernikahan’, seperti cacat
tersembunyi, atau perbedaan tingkat intelejensi dan status sosial yang
terlalu menyolok. Dalam istilah agama disebut perbedaan kufu. Namun
bukan berarti tidak bisa diatasi sama sekali. Sementara faktor-faktor
lain lebih menyerupai kendala umum yang hampir dialami oleh setiap rumah
tangga.
Menghindari Badai
Segala persoalan dan kesulitan dalam rumah tangga, sekecil apapun,
sering terlihat bagaikan badai laut, karena terasa mengusik kenikmatan
yang sedang dicoba untuk diraih secara optimal. ‘Badai’ itu sudah pasti
ada, besar atau kecil. Kita tidak dituntut untuk melawan goncangan
badai, namun usahakan secerdik mungkin menghindarinya atau menghindari
bahayanya bila memang ‘sang badai’ sudah sempat menerpa.
Badai rumah tangga seringkali tampil dalam wujud percekcokan antara
suami istri. Kalau dibilang sebagai bumbu, mungkin lebih layak disebut
bumbu yang terlalu pedas. Karena percekcokan antara dua insan yang
seharusnya bersatu, yang seharusnya tenggelam dalam suasana tentram,
penuh dengan kasih saying, jelas berpengaruh amat besar terhadap
kebahagiaan masing-masing pihak, bahkan berpengaruh pada penyelesaian
tugas masing-masing dalam rumah tangga. Banyak nasihat para ulama yang
dipaparkan dalam buku-buku panduan pernikahan untuk mengatasi terjadinya
kasus percekcokan pasutri tersebut. Mungkin bisa kita tarik beberapa
point terpenting di antaranya:
- Mempelajari hukum-hukum syariat dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah r. Kiat pertama ini untuk membentengi masing-masing pasutri dalam kesalahan mengambil sikap saat akan, sedang atau setelah terjadinya konflik.
- Meneliti kembali hak dan kewajiban masing-masing. Dengan kiat ini, diharapkan kesalahan akibat melalaikan hak dan kewajiban yang sering menimbulkan polemik bisa dihindari, setidaknya diminimalisir.
- Meminta nasihat orang tua dan alim ulama. Orang tua diperlukan dengan pengalamannya. Sementara para ulama dibutuhkan dengan ilmu, wawasan dan fatwanya. Menyelesaikan segala hal dengan segala keterbatasan diri sendiri adalah sikap nekat yang sering berakibat fatal.
- Mengoptimalkan kesabaran, bila perlu melatih diri untuk menjadi lebih penyabar dan tabah menghadapi segala masalah. Di dalam hidup berumah tangga, kesabaran lebih dibutuhkan daripada sekedar berinteraksi dengan teman dekat misalnya. Istri, bagi seorang suami, sudah menjadi belahan jiwa. Sehingga menghadapi seorang istri yang sulit memahami ungkapan dan penjelasannya saja seorang suami sudah bisa dibikin susah. Oleh sebab itu, tidak jarang seorang suami tampil demikian percaya diri dan amat meyakinkan di hadapan publik, namun menjadi amat bodoh dan tidak punya nyali di hadapan istrinya. Demikian juga seorang istri. Seringkali seorang istri mampu menahan berbagai terpaan fitnah hebat dari luar rumah, namun menjadi pusing tujuh keliling, hanya menghadapi seorang suami yang menimbulkan masalah-masalah sederhana. Di situ kesabaran diuji.
- Memaklumi sebagian kekurangan. Ibarat pepatah Arab yang artinya: “Siapa yang mencari kawan tanpa kekurangan, pasti akan hidup tanpa kawan.” Nabi r juga telah memperingatkan kita agar memaklumi sebagian dari kekurangan pasangan kita. Karena bila kita kecewa terhadap salah satu sifat buruknya, pasti kita akan dibuat terperangah dan senang oleh sifatnya yang lain.
- Bertaubat. Hanya taubat yang tulus yang dapat membuka pintu hati masing-masing pasangan suami istri untuk mengetahui kekurangannya, untuk mau memperbaiki diri dan menjalankan segala kewajibannya di hadapan Allah dan terhadap pasangannya. Allah berfirman dalam surat At-Tahriem ayat 10, yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kalian dengan taubat yang tulus. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian..”
Taubat yang tulus membuka pintu ampunan Allah l. Seringkali salah satu pasangan suami istri menukas cerdik,
“Kalau Allah l saja mau memberikan ampunan, kenapa kita tidak?”
Mungkin bisa dijawab dengan canda ringan,
“Ya bisa saja, tapi ada syaratnya. Taubat kan juga ada syaratnya.”
Mungkin pasangan lain bisa menimpali: “Okey. Syaratnya boleh apa aja.”
- Jangan mendramatisir persoalan. Bila masing-masing pihak sudah berbaikan, coba tekan permasalan hingga ke bawah telapak kaki. Jangan mendramatisir suasana, misalnya dengan nyeletuk: “Aduh, gara-gara kamu tadi, aku jadi gak bisa kerja. Kepalaku pusing!” Atau dengan nada kesal melontarkan kata-kata: “Baik, aku maafkan. Tapi rasanya ku tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidupku!”
Semua sikap seperti itu sering berakibat buruk. Sering menunda-nunda
terjadinya perbaikan antara kedua belah pihak. Untuk itu, faktor
kesabaran yang ditambah dengan formula ‘mudah mengalah’, amatlah
dibutuhkan.
Pada akhirnya, kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang muncul
melalui penempaan, gemblengan dan cobaan. Justru di situlah letak dari
‘seni hidup’ di dunia ini. Sementara bagi seorang mukmin, kebahagiaan di
dunia hanya merupakan garis kodrat yang harus dilaluinya melalui
berbagai upaya memaksimalkan penghambaan dirinya terhadap Allah,
sehingga akan melahirkan kebahagiaan ‘super sejati’ di akhirat nanti,
yang tidak lain, bagi seorang mukmin, adalah pintu keluar dari penjara
dunia…..